Kisah Mereka yang Berpenghasilan di Bawah UMK


Kisah Mereka yang Berpenghasilan di Bawah UMK

oleh Achmad Zahid F.M.

Keras dan beratnya pekerjaan yang harus mereka lakukan rupanya tidak sebanding dengan apa yang mereka dapatkan. Cucuran keringat yang mengallir jatuh dari dahinya terkadang tidak cukup mampu membawanya pada penghasilan yang layak. Mereka yang hidup dengan penghasilan yang kurang, selalu bergantung pada kedermawanan dunia untuk bertahan.
 
Tidak semua daun pada pohon rindang tumbuh dengan subur. Perumpamaan tersebut sangat cocok dengan fenomena yang ada saat ini. Di balik pesatnya pembangunan dan bertaburnya kendaraan mewah di jalan-jalan Kota Bandung, selalu menyisakan cerita orang-orang yang hidup dengan penghasilan pas-pasan. Di zaman yang serba sulit seperti sekarang ini membuat hidup mereka semakin terhimpit.

Seragam yang mereka kenakan saat bekerja ternyata tidak menjamin hak mereka untuk mendapat upah yang layak. Di Kota Bandung sendiri, tidak sulit kita temukan para pekerja yang masih diberi upah di bawah Upah Minimum Kota (UMK) oleh bosnya. Padahal, mereka bekerja pada perusahaan yang sangat bonafit dan jauh dari resiko krisis keuangan.

Seperti dialami oleh Setiawan (36) yang bekerja sebagai pembersih kaca dan cleaning service pada Wisma Bumi Putera, Jl. Asia Afrika, Bandung. Ayah dari 2 anak ini setiap harinya diharuskan menaiki gondola untuk membersihkan kaca jendela di luar gedung yang mempunyai tinggi 60 meter tersebut.

Pekerjaannya selalu dimulai sebelum para karyawan lain datang dan berakhir setelah karyawan lain selesai bekerja. “Setiap hari saya mulai naik sekitar setengah tujuh pagi dan turun lagi jam lima sore,” ujar Setiawan.
Sekilas, pekerjaan Setiawan tersebut memang sangat mudah karena hanya membersihkan kaca setiap harinya. Tapi, sangat tidak terbayangkan besarnya resiko dari pekerjaan tersebut. Debu dan angin kencang yang bertiup di ketinggian, sering membuat kesehatan lelaki tamatan SMP ini terganggu. Tidak hanya itu, resiko terbesarnya adalah kematian bila ia terjatuh dari ketinggian.

Tunututan memenuhi kebutuhan pokok dan sulitnya mencari lapangan pekerjaan, tidak jarang membuat orang-orang sepertinya terpaksa mengambil pekerjaan yang sangat beresiko. Namun sayang, taruhan nyawa yang telah diberikannya hanya mendapat upah Rp 900ribu per bulan. Padahal jika kita telusuri, UMK dari Kota Bandung untuk tahun 2010 adalah sebesar Rp 1.118.000 per bulannya.

Dengan penghasilannya yang pas-pasan itu, seringkali membuatnya semakin kebingungan saat ada anggota keluarganya yang sakit. “Waktu itu anak saya yang bungsu mau lahir, dan saya bingung karena tidak punya biaya. Akhirnya isteri saya melahirkan di rumah dengan dibantu para tetangga saja,” ujar Setiawan menceritakan kisah hidupnya.

Seperti halnya setiawan, nasib yang dialami Mukhsidin (40) juga tidak jauh berbeda. Pria yang bekerja sebagai cleaning service di salah satu lembaga kursus bahasa asing di Kota Bandung ini harus bekerja selama 12 jam per harinya. Untuk pekerjaannya tersebut, ayah dari 4 anak ini hanya diberi upah sebesar Rp 400ribu untuk sebulan bekerja.

Dengan gaji segitu, ia mengaku masih sangat jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Apalagi, saat ini anaknya yang masih balita sangat memerlukan susu dan asupan gizi yang baik. Oleh karenanya, tidak jarang Mukhsidin harus gali lubang-tutup lubang untuk mengakali kekurangan biaya hidupnya.

Seiring melonjaknya harga kebutuhan pokok dan minimnya gaji yang didapatnya, ia pun memilih solar sebagai bahan bakar kompornya untuk memasak. “Minyak tanah itu sekarang mahal, kalau pakai solar cuma Rp 4500. Jadinya lebih hemat aja,” katanya. Lelaki yang hanya mengenyam pendidikan formal hingga tamat SD ini mengaku tidak mendapatkan program konversi gas yang diberikan oleh pemerintah beberapa waktu lalu. “Waktu ada program itu, saya belum pindah ke Baleendah, waktu itu saya masih di Cikutra jadinya saya nggak dapat gas sekaligus kompornya,” tambah Mukhsidin. Ia menyadari bahwa menggunakan solar sebagai bahan bakar kompornya memang sangat berbahaya, tapi karena untuk menghemat pengeluaran ia terpaksa menggunakannya.

Melalui dinas tenaga kerja dan transmigrasi, pemerintah telah menetapkan upah minimum yang harus dipatuhi oleh setiap perusahaan. Sanksi berupa denda hingga kurungan penjara juga telah diatur oleh pemerintah untuk “menyentil” perusahaan yang mengindahkannya. Namun seperti yang kita lihat tadi, dalam prakteknya masih banyak perusahaan yang tidak mematuhi peraturan tersebut.

Komunikasi yang kurang baik antara atasan dan bawahan dalam perusahaan menjadi salah satu faktor kenapa hal ini masih sangat sering terjadi. Sebuah pekerjaan yang sangat dibutuhkan para buruh seakan membuatnya bisu hingga tidak berani menuntut hak semestinya.

Hal itu juga terjadi pada kedua buruh diatas; Mukhsidin dan Setiawan. Mereka mengaku tidak berani berkomunikasi secara langsung kepada atasan untuk menuntut haknya. “Ya mau bagaimana, kalau saya menuntut (naik gaji), takut malah dipecat. Padahal kita sangat butuh pekerjaan,” ujar setiawan seraya berbisik.

Namun walau begitu beratnya beban yang harus mereka tanggung, hanya kesabaran dan keikhlasan yang mendampingi mereka tetap bertahan dari kerasnya hidup. “Betapa pun sulitnya hidup, saya tetap bersyukur dengan apa yang selama ini Tuhan berikan, karena itulah kunci untuk menikmati kehidupan.” ujar Mukhsidin menutup pembicaraan. ***

0 Response to "Kisah Mereka yang Berpenghasilan di Bawah UMK"

Posting Komentar