Kisah Mereka yang Berpenghasilan di Bawah UMK


Kisah Mereka yang Berpenghasilan di Bawah UMK

oleh Achmad Zahid F.M.

Keras dan beratnya pekerjaan yang harus mereka lakukan rupanya tidak sebanding dengan apa yang mereka dapatkan. Cucuran keringat yang mengallir jatuh dari dahinya terkadang tidak cukup mampu membawanya pada penghasilan yang layak. Mereka yang hidup dengan penghasilan yang kurang, selalu bergantung pada kedermawanan dunia untuk bertahan.
 
Tidak semua daun pada pohon rindang tumbuh dengan subur. Perumpamaan tersebut sangat cocok dengan fenomena yang ada saat ini. Di balik pesatnya pembangunan dan bertaburnya kendaraan mewah di jalan-jalan Kota Bandung, selalu menyisakan cerita orang-orang yang hidup dengan penghasilan pas-pasan. Di zaman yang serba sulit seperti sekarang ini membuat hidup mereka semakin terhimpit.

Seragam yang mereka kenakan saat bekerja ternyata tidak menjamin hak mereka untuk mendapat upah yang layak. Di Kota Bandung sendiri, tidak sulit kita temukan para pekerja yang masih diberi upah di bawah Upah Minimum Kota (UMK) oleh bosnya. Padahal, mereka bekerja pada perusahaan yang sangat bonafit dan jauh dari resiko krisis keuangan.

Seperti dialami oleh Setiawan (36) yang bekerja sebagai pembersih kaca dan cleaning service pada Wisma Bumi Putera, Jl. Asia Afrika, Bandung. Ayah dari 2 anak ini setiap harinya diharuskan menaiki gondola untuk membersihkan kaca jendela di luar gedung yang mempunyai tinggi 60 meter tersebut.

Pekerjaannya selalu dimulai sebelum para karyawan lain datang dan berakhir setelah karyawan lain selesai bekerja. “Setiap hari saya mulai naik sekitar setengah tujuh pagi dan turun lagi jam lima sore,” ujar Setiawan.
Sekilas, pekerjaan Setiawan tersebut memang sangat mudah karena hanya membersihkan kaca setiap harinya. Tapi, sangat tidak terbayangkan besarnya resiko dari pekerjaan tersebut. Debu dan angin kencang yang bertiup di ketinggian, sering membuat kesehatan lelaki tamatan SMP ini terganggu. Tidak hanya itu, resiko terbesarnya adalah kematian bila ia terjatuh dari ketinggian.

Tunututan memenuhi kebutuhan pokok dan sulitnya mencari lapangan pekerjaan, tidak jarang membuat orang-orang sepertinya terpaksa mengambil pekerjaan yang sangat beresiko. Namun sayang, taruhan nyawa yang telah diberikannya hanya mendapat upah Rp 900ribu per bulan. Padahal jika kita telusuri, UMK dari Kota Bandung untuk tahun 2010 adalah sebesar Rp 1.118.000 per bulannya.

Dengan penghasilannya yang pas-pasan itu, seringkali membuatnya semakin kebingungan saat ada anggota keluarganya yang sakit. “Waktu itu anak saya yang bungsu mau lahir, dan saya bingung karena tidak punya biaya. Akhirnya isteri saya melahirkan di rumah dengan dibantu para tetangga saja,” ujar Setiawan menceritakan kisah hidupnya.

Seperti halnya setiawan, nasib yang dialami Mukhsidin (40) juga tidak jauh berbeda. Pria yang bekerja sebagai cleaning service di salah satu lembaga kursus bahasa asing di Kota Bandung ini harus bekerja selama 12 jam per harinya. Untuk pekerjaannya tersebut, ayah dari 4 anak ini hanya diberi upah sebesar Rp 400ribu untuk sebulan bekerja.

Dengan gaji segitu, ia mengaku masih sangat jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Apalagi, saat ini anaknya yang masih balita sangat memerlukan susu dan asupan gizi yang baik. Oleh karenanya, tidak jarang Mukhsidin harus gali lubang-tutup lubang untuk mengakali kekurangan biaya hidupnya.

Seiring melonjaknya harga kebutuhan pokok dan minimnya gaji yang didapatnya, ia pun memilih solar sebagai bahan bakar kompornya untuk memasak. “Minyak tanah itu sekarang mahal, kalau pakai solar cuma Rp 4500. Jadinya lebih hemat aja,” katanya. Lelaki yang hanya mengenyam pendidikan formal hingga tamat SD ini mengaku tidak mendapatkan program konversi gas yang diberikan oleh pemerintah beberapa waktu lalu. “Waktu ada program itu, saya belum pindah ke Baleendah, waktu itu saya masih di Cikutra jadinya saya nggak dapat gas sekaligus kompornya,” tambah Mukhsidin. Ia menyadari bahwa menggunakan solar sebagai bahan bakar kompornya memang sangat berbahaya, tapi karena untuk menghemat pengeluaran ia terpaksa menggunakannya.

Melalui dinas tenaga kerja dan transmigrasi, pemerintah telah menetapkan upah minimum yang harus dipatuhi oleh setiap perusahaan. Sanksi berupa denda hingga kurungan penjara juga telah diatur oleh pemerintah untuk “menyentil” perusahaan yang mengindahkannya. Namun seperti yang kita lihat tadi, dalam prakteknya masih banyak perusahaan yang tidak mematuhi peraturan tersebut.

Komunikasi yang kurang baik antara atasan dan bawahan dalam perusahaan menjadi salah satu faktor kenapa hal ini masih sangat sering terjadi. Sebuah pekerjaan yang sangat dibutuhkan para buruh seakan membuatnya bisu hingga tidak berani menuntut hak semestinya.

Hal itu juga terjadi pada kedua buruh diatas; Mukhsidin dan Setiawan. Mereka mengaku tidak berani berkomunikasi secara langsung kepada atasan untuk menuntut haknya. “Ya mau bagaimana, kalau saya menuntut (naik gaji), takut malah dipecat. Padahal kita sangat butuh pekerjaan,” ujar setiawan seraya berbisik.

Namun walau begitu beratnya beban yang harus mereka tanggung, hanya kesabaran dan keikhlasan yang mendampingi mereka tetap bertahan dari kerasnya hidup. “Betapa pun sulitnya hidup, saya tetap bersyukur dengan apa yang selama ini Tuhan berikan, karena itulah kunci untuk menikmati kehidupan.” ujar Mukhsidin menutup pembicaraan. ***

"Yang Penting Dengar Suara Rakyat Lah, Supaya Lebih Baik. Usaha Kecil-Kecilan Ini Bisa Tenang."

oleh Nadi Tirta Pradesha.

Tahu warung mie yamin dan lomie yang ada di sebelah Aquarius Dago? Pernah mencicipinya? Bila sudah, bagaimana rasanya? Menurut Karedokanget, rasa yang ditawarkan benar-benar praktik dari jargon "harga kaki lima, rasa bintang lima."

Cukup dengan 5.000 rupiah saja anda sudah dapat menikmati satu mangkuk mie yamin di warung ini. Belum lagi lomienya yang hanya mematok harga 7.000 rupiah saja, warung ini memuaskan kebutuhan anda yang ingin jajan mie berkualitas tanpa ingin merogoh kocek dalam-dalam. Sudah tentu, Karedokanget merekomendasikan warung ini kepada pembaca, khususnya yang hidup ngepas seperti anak kost.

Tapi, dalam tulisan kali ini, Karedokanget menghadirkan wawancara (5/12/09) dengan pemilik dan juru masak dari warung mungil ini, Adi (23). Ah, mungkin setelah membaca ini, anda mungkin ingin berkunjung. Dan jika iya, pastikan anda meluncur ke arah Aquarius Dago, belok kiri dan nikmati semangkuk mie di warung ini.



Sudah berjualan disini dari kapan Mas?
Baru 2 tahun sekarang. Tiga tahun jalan, dari tahun 2006, sekitar itu.
Usaha Mas cuma ini atau ada yang lain?
Cuman ini aja, jualan mie.
Keluarga apakah pernah merasa kekurangan Mas?
Keluarga sendiri sih, alhamdulillah ya, belum pernah kekurangan. Cukup-cukup saja.
Tiap bulannya kira-kira jualannya ludes atau masih sisa?
Hari-hari ini sih enak lah buat usaha, kadang naik turun tapi.
Ada niat cari pekerjaan lain Mas?
Kalau kerja sih kayaknya enggak. Masih ingin ngembangin usaha kecil-kecilan ini supaya bisa gede nanti.
Ini modal awal usahanya berapa ya Mas?
Ini pertama teh beli roda (baca: gerobak) komplit sekitar 1,5 juta.
Kalau untuk bahan-bahannya sendiri?
Bahan-bahannya beli perhari kira-kira 100-200 ribu.
Kalau dihitung-hitung berarti untuk beli bahan habis 600 ribu dan penghasilan Mas 1 juta, apakah hal tersebut mengganggu keluarga?
Enggak, enggak mengganggu kok, cukup.
Selama ini sudah ada perhatian Mas, dari pemerintah?
Pemerintah secara langsung sih enggak, tapi secara enggak langsung sih ada.
Dulu pernah kerja apa saja Mas?
Dulu kerja di warung sop sama nasi goreng di daerah Trunojoyo.
Berarti gak sempat kerja di kampung Mas?
Di kampung? Enggak.
Bedanya kehidupan di kota dengan di kampung Mas? Soal keuangan terutama.
Kalau disini kan rame, kalau di kampung ramenya cuma di hari tertentu saja, hari raya contohnya.
Disini ada pungutan liar gak Mas?
Pungli sih enggak ada disini.
Gimana harapan ke depannya Mas? Berhubung kita baru ganti presiden nih.
Yang penting dengar suara rakyat lah, supaya lebih baik. Usaha kecil-kecilan ini bisa tenang, bisa maju dan gak ada gangguan, kalau bisa ditempatin di tempat yang lebih strategis, gitu.


Demokrasi Dan Kebabasan Pers yang Kebablasan

Oleh Achmad Zahid/210110080048

Semenjak pemerintah orde baru tumbang dan digulingkan dari kekuasaan, bangsa ini beranjak memasuki masa yang kita sebut era reformasi. Secara instan bangsa ini pun berubah, dalam istilah kulon-nya, bangsa kita telah ber-revolusi. Kebiasaan pemerintah terdahulu yang selalu berusaha mengurung aspirasi rakyat kedalam blok-blok kecil di lembaga permasyarakatan, kini telah berubah menjadi kebebasan berdemonstarasi pendapat di teras-teras gedung penyelenggara pemenrintahan atau kritikan tajam untuknya lewat media massa.
Inilah yang dimaksud oleh para filsuf dunia barat sebagai demokrasi; rakyat bebas mengutarakan aspirasi; kedaulatan benar-benar berada ditangan rakyat. Tapi, dalam perjalanannya selama lebih dari 1 dekade, demokrasi di negara kita bukanlah semakin dewasa. Kebebasan berpendapat selalu disalah gunakan dengan tidak memerhatikan norma dan etika yang ada. Demonstrasi yang seharusnya dilakukan dengan tertib dan damai, kini semakin brutal dengan banyaknya tindakan anarkis dan pengerusakan yang merugikan.
Media massa dan Institusi pers sebagai tonggak berdirinya demokrasi juga telah berubah menjadi korporat atau perusahaan yang hanya mencari keuntungan pribadi. Bahkan tidak jarang kita lihat, perusahaan media massa telah mengalami metamorfosis fungsi menjadi mesin politik bagi pemiliknya untuk mendapatkan apa saja yang diinginkan, tanpa terkecuali hasrat menginginkan kekuasaan. Mungkin hal itu salah satu penyebab pekerja media seperti wartawan meninggalkan jauh-jauh independensinya.
Selain masalah independensi pekerja media, media massa saat ini seperti tidak mempunyai regulator. Tayangan kekerasan yang seharusnya tidak layak dipublikasikan, kini menjadi lumrah dilakukan oleh media-media massa, khususnya televisi. Dalam tayangannya sering kali kita melihat adegan kekerasan dan pelanggaran HAM yang tidak disensor. Untuk mempertegasnya mari kita ambil contoh kasus peliputan kerusuhan di Koja, Tanjung Priok. Apakah demi sebuah rating dan persaingan antar perusahaan media, lalu mereka bisa melegalkan tayangan kekerasan tersebut tanpa proses sensor?
Belum hilang dari ingatan kita tentang kasus salah satu televisi swasta yang dituntut Kepolisian Republik Indonesia karena dituduh membuat berita dengan narasumber palsu. Tugas jurnalis dan media massa adalah memberikan informasi yang akurat sesuai dengan fakta yang ada di lapangan. Bukan malah membohongi publik dengan memberikan informasi sembarangan, apalagi merekayasa suatu produk jurnalistik. Dengan alasan apapun, sangat tidak dibenarkan jika suatu media massa tidak berimbang dalam pemberitaannya. Apalagi hanya dengan alih-alih ingin menjadi yang tercepat. Tentu itu tidak bisa dijadikan suatu tameng untuk berlindung, karena keakuratan lah yang terpenting. Media massa dan wartawan harus menjadikan kode etik profesi sebagai panglima di setiap kegiatannya.
Oleh karena hal tersebut, saya sebagai mahasiswa jurnalistik, saya sedikit gusar melihat tayangan produk jurnalistik televisi saat ini. Saya mengira banyak sekali dari mereka yang melanggar kode etik jurnalistik dalam kegiatan peliputannya.
semoga tulisan ini bukan menjadi belati yang seakan menusuk hati para pekerja media massa saat ini, akan tetapi menjadi bahan pertimbangan sekaligus masukan yang bermanfaat bagi perkembangan kegiatan jurnalistik dan kebabasan pers di Indonesia.

Pedesaan Target Utama Pemerintah Ciptakan Lapangan Kerja


Oleh Achmad Zahid/210110080048

Bandung (Karedok Anget),
Untuk mengurangi tingkat pengangguran dan kemiskinan, pemenrintah melalui Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Kemenakertrans) akan menekankan penciptaan lapangan kerja di sektor pedesaan. Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Muhaimin Iskandar mengungkapkan hal tersebut dalam acara “Konsolidasi Ketenagakerjaan dan Ketransmigrasian Jawa Barat 2010” di Gedung Sate, Bandung, Rabu (05/05).

Hal tadi, lanjut Muhaimin, akan diwujudkan melalui berbagai program pemberdayaan yang secara langsung menyentuh masyarakat di pedesaan. Dengan program tersebut diharapkan mampu mendorong masyarakat desa menjadi wirausahawan handal di berbagai bidang usaha produktif.

Muhaimin mengatakan hal tersebut mengingat sebanyak 60% penduduk Indonesia tinggal di pedesaan dan sebagian besar berada di bawah garis kemiskinan. “Sebanyak 60% penduduk Indonesia tinggal di pedesaan dan sebagian besar bekerja di sektor informal. Maka penekanan penciptaan kesempatan kerja perlu diarahkan ke pedesaan,” tukas Ketua Umum DPP PKB yang akrab disapa Cak Imin ini.

Ia berharap, dengan terciptanya berbagai lapangan kerja dan pemberdayaan masyarakat di pedesaan, mampu menggali potensi daerah yang nantinya dapat menghasilkan produk-produk unggulan agar dapat berkembang dan masuk ke dalam pasar yang lebih luas. Dengan demikian diharapkan perekonomian pedesaan semakin maju dan mampu menjadi tulang punggung perekonomian nasional.

Tatto, Dari Seni Menuju Gaya Hidup

Oleh Achmad Zahid/210110080048

Tidak setiap orang memiliki cukup keberanian untuk melukiskan tatto ditubuhnya. Selain sedikit sakit dalam pembuatannya, budaya di negara kita masih menganggap bahwa tatto adalah hal yang tabu dan bertentangan dengan norma agama (Islam). Tatto adalah seni menggabar suatu simbol dengan medium kulit manusia. Konon, berdasarkan sejarahnya, tatto pertama kali diperkenalkan oleh orang-orang mesir pada masa pembangunan pyramids, yang kemudian menyebar keseluruh dunia seiring berkembangnya kerajaan mesir saat itu. Pada hakikatnya, seni menggambar tatto adalah memberikan ukiran pigmen warna-warni pada kulit manusia dengan menggunakan alat semacam jarum yang hasilnya bersifat permanen. Namun, saat ini seni bertatto telah dimodifikasi, sehingga bagi kita yang tidak ingin mempunyai tatto permanen bisa memiliki tatto sementara (temporary).
Walaupun sebagian besar budaya di Indonesia masih menempatkan seni tatto pada perspektif negatif, hal itu tidak menyurutkan perkembangan tatto pada negara muslim terbesar di dunia ini. Seni tatto permanen maupun temporary telah banyak diminati oleh masyarakat kota besar di Indonesia. Tidak terkecuali di kota bandung yang mendapat julukan sebagai kota mode.
Di kota bandung sendiri sudah banyak berdiri studio-studio yang menyediakan jasa tatto dan body painting. Salah satu yang terkenalnya adalah “Kent-Tatto”. Studio tatto yang telah berdiri sejak tahun 1996 ini memang telah banyak diakui oleh para penggemar tatto seantero Indonesia. Saat ini kent-tatto mempekerjakan empat orang seniman tatto handal yang disebar di tiga studio kent-tatto yang ada di Kota Bandung.  

Menurut Subhan, salah seorang seniman tatto di studio Kent-tatto Jalan Braga, hampir delapan puluh persen pelanggan di studionya adalah orang luar kota yang sengaja datang ke bandung hanya untuk menghias tubuh dengan tatto. Oleh karena itu, jika Anda ingin menghias tubuh dengan tatto atau body painting di kent-tatto, Anda harus daftar dan membuat janji terlebih dahulu.  
Kebanyakan orang memilih menggunakan tatto untuk menghias tubuh demi meningkatkan percaya dirinya. Selain sebagai seni, tatto juga digunakan untuk identitas jati diri seseorang. Menurut sabhan, banyak dari pelanggannya yang memilih gambar tatto berdasarkan latar belakang dirinya.
Biaya yang perlu kita keluarkan untuk membuat tatto memang relatif mahal. “dari kent-tatto sendiri, kita mematok harga Rp.7500 per centimeter persegi untuk pembuatan tatto diatas 80 centimeter persegi. Jika pembuatan kurang dari 80 cm persegi, maka harga per centimeternya agak mahal sedikit,” tutur subhan. Hal itu memang wajar karena peralatan yang diperlukan untuk membuat tatto juga mahal pula. 
Selain menerima jasa pembuatan tatto, studio kent-tatto juga melayani konsultasi gratis yang dibuka setiap hari dari pukul 09.00-03.00. Studio ini juga menjual obat-obatan khusus untuk merawat tatto serta asesoris tubuh seperti pearching dan lain-lain.

Khyalan Kami Tentang Perkembangan Teknologi di Masa Depan

oleh Karedokanget.

Berkhayal lah seluas biru langit. Berpikir lah sedalam biru laut. -- Slank Dance

Kutipan lirik lagu Slank diatas telah menginspirasi kami untuk menulis dan mengembangkan khayalan kami akan perkembangan teknologi di masa depan. Tentu tidak sulit memang. Untuk berimajinasi dengan tiada batas, kita tidak perlu mengeluarkan banyak pengorbanan untuk itu. Seseuatu yang murah, seperti menghirup udara.

Juga tidak ada yang salah dari bermimpi. Bahkan seorang yang biasa kami sebut "guru" pernah berkata bahwa manusia yang tidak mempunyai mimpi adalah manusia yang telah "mati". Mati disini bisa berarti luas, bisa mati dalam arti harfiah, bisa juga berati metafora. Bahkan perusahaan Honda yang didirikan oleh Soichiro Honda berawal dari sebuah mimpi dan khayalannya yang tinggi yang saat itu memang dianggap tabu oleh orang-orang. Tapi ia berhasil membuktikan kekuatan mimpi-mimpinya itu. Tidak aneh jika kutipan terkenalnya "The Power Of Dreams" sampai saat ini terdengar lazim di telinga kita. Baiklah, daripada kita menghabiskan waktu untuk larut dalam sebuah mukadimah, lebih baik kalian simak tulisan kami tentang khayalan akan masa depan dalam genggaman kemajuan teknologi. Chek it out!

Perkembangan manusia satu abad terakhir memang mengejutkan jika dibandingkan dengan di era-era sebelumnya.  Ledakan teknologi dalam satu abad terakhir dapat digolongkan sebagai salah satu pencapaian besar umat manusia. Ini suatu hal yang mengagumkan, mengingat bahwa manusia baru mulai menggunakan api sebagai alat kurang lebih 2 juta tahun yang lalu dan sekarang, manusia bahkan sudah bisa menciptakan api di segala macam tempat (jika kondisi dan alat mendukung). Salah satu kemampuan yang membuat manusia menjadi seperti ini adalah kemampuan adaptasi. 

Tetapi tidak hanya adaptasi semata yang mendorong terjadinya penemuan, inovasi dan pengembangan teknologi, namun  juga visi. Berkhayal, kemampuan membayangkan sesuatu yang tidak ada atau belum ada, hal ini juga yang berperan besar dalam proses penemuan, inovasi dan pengembangan teknologi. Dari yang semula hanya ide, bisa saja menjadi kenyataan. Tidak semua spesies dapat melakukan itu dan manusia adalah salah satu yang bisa. 

Selama ini kita masih disuguhkan oleh banyak perusahaan teknologi komunikasi dengan berbagai produknya yang mampu menunjukkan kecanggihannya untuk dapat melalakukan serangkaian banyak fungsi. Hanya dalam satu alat, kita dapat melakukan banyak hal, entah itu  bermain game, menelepon, menerima dan mengirim pesan singkat, menonton tv, mendengarkan radio,  hingga diintegrasikan dengan GPS. 

Tapi secara tak terkendali, seperti tercandu, alam sadar kita selalu berpikir tentang evolusi suatu alat komunikasi modern tersebut dari bentuk yang terlalu banyak memakan ruang, hingga meminimalisasi bahkan menghilangkan ruang yang dibutuhkan untuk pengoperasiannya. 
Tentu kita masih ingat pertama kali komputer ditemukan oleh penemunya yang jika kalian ingin tahu siapa, silahkan mencari sendiri di google.com (jangan malas). Yang jelas, komputer pada saat itu sampai memakan tempat sebesar ruangan keluarga untuk dapat beroperasi. Tapi sekarang, komputer tidak perlu menghabiskan ruangan sebesar itu untuk beroperasi. Saat ini sudah ada komputer sekecil dompet (atau bahkan yang lebih kecil lagi) yang bisa dimasukan ke dalam saku pakaian. 

Sekarang kami akan mengajak Anda membayangkan bagaimana perkembangan teknologi di tahun 2020-an atau kurang lebih, satu dekade yang akan datang. Karena kami tinggal di Indonesia, maka kami akan mengambil Indonesia sebagai setting lokasinya. 
Tahun 2020, kami membayangkan seraya berharap kota-kota besar di Indonesia seperti Jakarta (dan BODETABEK), Bandung, Semarang, Medan, Makassar dan Yogyakarta, sudah mempunyai koneksi internet wireless yang wilayahnya mencakup kota dan kabupaten. Sistem pembayarannya adalah melalui pajak dan pemilik dari penyedia layanan internet (ISP) tersebut adalah negara (bukan lagi korporat swata apalagi asing). 

Infrastruktur ini mendukung hampir semua elemen masyarakat dalam kegiatannya masing-masing. Yang banyak diuntungkan adalah kalangan pekerja kerah putih dan para akademisi. Kegiatan perkantoran semakin dimudahkan dengan adanya koneksi yang tidak pernah putus tersebut, transaksi tidak lagi terhalang waktu. Internet banking dan mobile banking pada saat itu sudah merupakan hal yang lumrah, tadak seperti saat ini yang masih harus dilakukan iklan dalam penyuluhan penggunaanya secara massal. 

Kegiatan belajar mengajar pun semakin interaktif, guru atau dosen dapat langsung mengambil contoh di internet. Untuk anak-anak yang duduk di bangku sekolah dasar, guru dapat melakukan streaming video yang mendukung mata pelajaran yang sedang diterangkan. Alat presentasi di kelas pun tidak lagi menggunakan OHP yang menggunakan kertas transparansi, tapi menggunakan notebook atau laptop yang menggunakan layar sentuh, presentasi pun menjadi semakin interaktif. 

Arus berita di era ini pun semakin deras. Di era ini, tolak ukurnya adalah menit, bahkan jika peristiwanya teramat penting, ukurannya adalah detik. Karena infrastrukturnya sudah mendukung, maka orang yang kurang suka membaca tidak lagi membeli koran, tetapi berlangganan feed dari situs media online yang bisa diakses kapan saja. Di era ini juga sudah terdapat koran plastik yang otomatis mengunduh berita terkini. Tentu saja layanan ini berbayar dan pembayarannya dilakukan secara online. 

Telepon umum pun kembali dihidupkan oleh pemerintah. Tapi kali ini tidak menggunakan uang koin ataupun kartu, tetapi menggunakan jaringan internet dan identifikasi tanda pengenal diri yang akan secara otomatis membayar tagihan telepon umum tersebut. Tanda pengenal diri kami maksud bukan KTP, bukan juga kartu identitas lain yang berbentuk kartu. Tapi tanda pengenal yang kami maksud disini adalah sebuah micro chip yang ditanam di tubuh manusia.

****Gambar Ini Hanya Ilustrasi

Jika Anda belum bisa membayangkan bagaimana bentuknya, cobalah browsing di internet atau lihatlah sirkuit pada alat kelistrikan apapun. Jika sudah, coba bayangkan jika sirkuit tersebut seukuran dengan sebutir beras. Chip ini merupakan tanda pengenal yang khas dan hampir tidak bisa disamai oleh orang lain. Benda ini mempunyai nomer seri yang khas berupa susunan karakter dan serial tersebut bersama sang pemilik hingga akhir hayatnya. 

Benda ini nantinya akan mengandung informasi tentang Anda: data diri Anda, nomer rekening, atau bahkan curriculum vitae Anda. Alat ini tidak wajib dimiliki oleh semua orang, tetapi penggunanya banyak karena terdapat berbagai variasi harga, tergantung fungsi dan fiturnya. Alat ini juga disertai dengan remote, untuk mengatur kegunaannya dan agar alat ini dapat dikontrol sesuai dengan kemauan pemiliknya. Remote ini juga yang mengatur contact list jika kita sudah melakukan add as friend kepada chip  orang lain, semacam messenger pada handphone. Kita bisa mengetik pesan kita melalui remote tersebut. 

****Gambar Ini Hanya Ilustrasi

Chip ini dapat dipasang di tangan dan area sekitar kepala. Jika dipasang di tangan, kegunannya adalah untuk melakukan transaksi (yang memungkinkan teknologi ini) dan jika dipasang di kepala, dapat berfungsi sebagai alat terapi medis, GPS dan radio (terdapat lagi alat tambahan berupa headset wireless). 

Alat ini akan sangat membantu tuna rungu dalam berkomunikasi, karena mempunyai fitur headset wireless dan harganya bervariasi. Chip beserta headsetnya bekerja sebagai penangkap sinyal yang ada dalam udara, remote yang menyertainya juga dapat mengatur volumenya dan jika ingin tidur, pengguna dapat sementara mematikan alat tersebut. 

Bahkan, beberapa varian yang berharga diatas rata-rata tidak memerlukan headset lagi karena sudah disertai dengan built-in micro receiver yang berhubungan langsung dengan gendang telinga dan menyertakan built-in micro speaker untuk berbicara. Biasanya, pengguna varian ini adalah kelas menengah-atas, kalangan militer dan intelejen. 

Namun seiring waktu, makin banyak pengguna chip “mewah” tersebut dan tujuannya pun tidak seserius militer serta intelejen. Seperti layaknya smartphone di era ini, chip mewah ini juga menjadi komoditi yang laris manis bak kacang goreng. Kalangan professional menggunakannya untuk bertransaksi dan lobby. Anak-anak muda tidak lagi mengetik pesan melalui remote, tetapi melakukan pembicaraan melalui receiver dan speaker. Alat ini pun dapat diintegrasikan dengan mp3 player. 

Media elektronik radio pun mulai bangkit kembali dan mulai ambil bagian yang cukup besar lagi dalam kancah industri media massa. Karena varian chip mewah tersebut dapat menerima sinyal radio maupun satelit, maka radio pun kembali mengudara dan industri media massa radio pun kembali menjadi salah satu garda depan. Banyak orang yang menggunakan chip ini lebih memilih radio dariapada koran online untuk mendengarkan berita. 

****Gambar Ini Hanya Ilustrasi

Dari sisi ekonomi adanya teknologi ini membantu pertumbuhan ekonomi karena persuasi terhadap klien bisa dilakukan tanpa harus memikirkan tagihan yang berlebih dan arus berita pun bisa diakses selama radio mengudara. Jadi, para professional tahu kapan harus mengambil keputusan ekonomi yang tepat. Sisi pertahanan dan keamanan pun semakin terbantu dengan adanya teknologi ini, sektor intelejen adalah salah satu yang paling diuntungkan karena arus komunikasi semakin sulit terlacak. 

Tapi teknologi ini bukan tanpa cela. Terlalu keranjingan mendengarkan radio dan berbincang menyebabkan banyak anak muda, baik mahasiswa ataupun siswa, tidak fokus sewaktu di kelas. Bukan tidak mungkin sekolah-sekolah akan melarang penggunaan alat ini sewaktu kegiatan belajar mengajar. Dan juga akan terjadi banyak fenomena “asyik sendiri” dalam lingkup sosial, hal ini juga disebabkan karena teknologi built-in micro speaker tadi. 

Chip ini pun bukan alat yang didesain untuk bertahan lama. Karena ditanam di dalam tubuh manusia dan harus mempunyai radiasi dalam tingkat yang paling minimum, maka alat ini pun harus selalu diperbaharui untuk menghindari kerusakan internal dalam tubuh. Karena menjadi komoditi yang laku keras, akan banyak pengguna yang terus membeli chip terbaru agar terus update dengan tren. Hal ini juga akan mendorong hasrat konsumerisme masyarakat agar terus berbelanja.

Dalam sisi politik, alat ini dapat menjadi pisau bermata 2, di satu sisi dapat melacak dan menemukan buronan sekelas koruptor yang hilang melarikan diri, namun di sisi lain, pemerintah pun bisa saja melacak individu-individu tertentu untuk kepentingan politik pihak tertentu. Jika situasinya seperti ini, privasi individu bisa jadi akan semakin terkikis. Bila pemakaiannya semakin tidak terkendali, bukan tidak mungkin banyak penyakit baru yang disebabkan oleh radiasi. 

Teknologi ini bukan tidak mungkin, sudah banyak pengaplikasiannya pada binatang langka, untuk memonitor pergerakannya, bahkan sebuah klub malam di Barcelona, Spanyol, menawarkan jasa chip implant kepada pengunjung VIP agar tidak lagi kerepotan untuk masuk. Manusia harus lebih cermat lagi dalam menimbang dan mempelajari fitur yang disediakan teknologi ini, agar manusia tidak dikontrol oleh teknologi yang mereka ciptakan.

Coming Soon , Nokia X6: Spesialis Download Musik.

Oleh Nadi Tirta Pradesha (210110080327)

Rasanya bohong jika ada individu yang tidak memiliki keinginan untuk berkomunikasi secara jarak jauh, karena ingin tercapainya kebutuhan ini pula banyak ditemukan teknologi yang memudahkan manusia melakukan telekomunikasi. Berawal hanya dari metode berkirim surat, siapa sangka ledakan teknologi telekomunikasi begitu dahsyatnya di era ini. Malah jadi muncul kesan bahwa dengan adanya teknologi telekomunikasi yang paling mutakhir yaitu internet, yang berada di sekitar malah justru terabaikan.




Sejak booming handphone terjadi di Indonesia, jika seseorang tidak memiliki salah satu gadget yang paling dinamis ini akan terasa seperti kehilangan anggota tubuh. Tidak berlebihan, kadang kita justru lebih ingat untuk membawa handphone daripada mematikan api kompor atau mengunci pintu rumah.


Nah, ledakan kebutuhan akan handphone ini sepertinya dimanfaatkan dengan baik oleh Nokia. Produsen asal Finlandia ini jeli melihat pasar Indonesia dan dampaknya adalah hingga sekarang, handphone masih identik dengan Nokia. Hegemoninya belum luntur walau diserbu berbagai smartphone, PDA phone dan handphone jenis lainnya.

Konsisten dengan varian khusus dengan fitur musik, Nokia kembali akan merilis handphone musik yang bernama X6 edisi "Comes With Music." Dengan kapasitas memori bawaan 16 GB, handphone ini diklaim pihak Nokia dapat mengunduh lagu sebanyak 3 juta lagu baik dari artis internasional maupun nasional selama periode satu tahun secara cuma-cuma. Jika dihitung-hitung, maka totalnya adalah kira-kira sebanyak membeli 300 album. Berikut pernyataan Bob McDougall selaku Country Manager dari Nokia Indonesia, seperti yang dikutip dari Kompas Tekno:


"Dengan Nokia X6 Comes With Music kita bisa mendownload lebih dari tiga juta lagu secara gratis, lagu apapun, kapanpun, dan di manapun. Bayangkan 3 juta lagu, kira-kira sama dengan 300 album. Kalau kita membeli 300 album, kita sudah mengeluarkan 15 miliar rupiah."


Handphone yang dibanderol seharga Rp.4,5 juta ini bukan tanpa kelemahan. Buktinya, fasilitas mengunduh secara cuma-cuma itu hanya tersedia selama satu tahun. Selebihnya akan dikenakan biaya untuk menguduh. Dan, layar touch screen yang dipakai pun tidak luput dari cacat. Cuaca Indonesia yang sering hujan pun merupakan salah satu musuh utama layar tipe ini. Jika tidak hati-hati merawat, bukan tidak mungkin organ dalam dan layarnya pun bisa "jamuran" terpapar air hujan dan sinar matahari.


Yang harus diperhatikan juga adalah dampak atau perubahan yang timbul dari perkembangan teknologi komunikasi . Menurut M. Rogers, ada 3 dampak. Seperti yang sudah dijelaskan rekan saya diatas, ada dampak interactivity, demassified dan asynchronus.


Dalam dampak interactivity, sudah jelas hal ini terdapat di teknologi ini. Handphone memang dapat menghubungkan satu individu dengan yang lainnya dengan hampir tanpa hambatan. Walaupun tetap saja teknologi ini hanya merupakan penyampai pesan yang tidak bisa menyampaikan hal-hal seperti gestur dan mimik muka seperti pada saat bertatap muka langsung.


Untuk dampak demassified, gadget ini akan menyita perhatian pemiliknya dengan fasilitas unduhan gratis tersebut. Pengguna memiliki kemungkinan sangat besar untuk tidak lagi membeli CD bajakan, CD asli atau bahkan berhenti menggunakan iPod (atau gadget sejenis) berikut iTunes Storenya.


Dampak asynchronus juga akan terlihat. Fasilitas mengunduh gratis memang akan memunculkan iklan kepada penggunanya secara serempak ataupun tidak. Pesan-pesan dari sponsor pun akan semakin gencar walaupun tidak dilakukan secara serempak kepada pengguna gadget ini.





referensi: http://tekno.kompas.com/read/xml/2010/03/25/16435419/nokia.x6.comes.with.music.dibanderol.rp.45.juta