oleh Nadi Tirta Pradesha.
Tahu warung mie yamin dan lomie yang ada di sebelah Aquarius Dago? Pernah mencicipinya? Bila sudah, bagaimana rasanya? Menurut Karedokanget, rasa yang ditawarkan benar-benar praktik dari jargon "harga kaki lima, rasa bintang lima."
Cukup dengan 5.000 rupiah saja anda sudah dapat menikmati satu mangkuk mie yamin di warung ini. Belum lagi lomienya yang hanya mematok harga 7.000 rupiah saja, warung ini memuaskan kebutuhan anda yang ingin jajan mie berkualitas tanpa ingin merogoh kocek dalam-dalam. Sudah tentu, Karedokanget merekomendasikan warung ini kepada pembaca, khususnya yang hidup ngepas seperti anak kost.
Tapi, dalam tulisan kali ini, Karedokanget menghadirkan wawancara (5/12/09) dengan pemilik dan juru masak dari warung mungil ini, Adi (23). Ah, mungkin setelah membaca ini, anda mungkin ingin berkunjung. Dan jika iya, pastikan anda meluncur ke arah Aquarius Dago, belok kiri dan nikmati semangkuk mie di warung ini.
Sudah berjualan disini dari kapan Mas?
Baru 2 tahun sekarang. Tiga tahun jalan, dari tahun 2006, sekitar itu.
Usaha Mas cuma ini atau ada yang lain?
Cuman ini aja, jualan mie.
Keluarga apakah pernah merasa kekurangan Mas?
Keluarga sendiri sih, alhamdulillah ya, belum pernah kekurangan. Cukup-cukup saja.
Tiap bulannya kira-kira jualannya ludes atau masih sisa?
Hari-hari ini sih enak lah buat usaha, kadang naik turun tapi.
Ada niat cari pekerjaan lain Mas?
Kalau kerja sih kayaknya enggak. Masih ingin ngembangin usaha kecil-kecilan ini supaya bisa gede nanti.
Ini modal awal usahanya berapa ya Mas?
Ini pertama teh beli roda (baca: gerobak) komplit sekitar 1,5 juta.
Kalau untuk bahan-bahannya sendiri?
Bahan-bahannya beli perhari kira-kira 100-200 ribu.
Kalau dihitung-hitung berarti untuk beli bahan habis 600 ribu dan penghasilan Mas 1 juta, apakah hal tersebut mengganggu keluarga?
Enggak, enggak mengganggu kok, cukup.
Selama ini sudah ada perhatian Mas, dari pemerintah?
Pemerintah secara langsung sih enggak, tapi secara enggak langsung sih ada.
Dulu pernah kerja apa saja Mas?
Dulu kerja di warung sop sama nasi goreng di daerah Trunojoyo.
Berarti gak sempat kerja di kampung Mas?
Di kampung? Enggak.
Bedanya kehidupan di kota dengan di kampung Mas? Soal keuangan terutama.
Kalau disini kan rame, kalau di kampung ramenya cuma di hari tertentu saja, hari raya contohnya.
Disini ada pungutan liar gak Mas?
Pungli sih enggak ada disini.
Gimana harapan ke depannya Mas? Berhubung kita baru ganti presiden nih.
Yang penting dengar suara rakyat lah, supaya lebih baik. Usaha kecil-kecilan ini bisa tenang, bisa maju dan gak ada gangguan, kalau bisa ditempatin di tempat yang lebih strategis, gitu.
3 Comments



